www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Friday, November 26, 2010

Amerika, Segera Menjadi Negara Dunia Ketiga?



Amerika Serikat berada di ambang pintu untuk segera menjadi sebuah negara Dunia Ketiga, seiring negara itu masih berjuang menggelepar-gelepar karena utang besar-besaran, pengangguran yang meloncat tajam dan ekonomi yang terus memburuk.

Beberapa tanda-tanda peringatan itu sudah muncul dalam beberapa tahun belakangan ini. Tanda-tanda yang mungkin menunjukkan kejatuhan fantastis Amerika dari sebuah negara Dunia Pertama menjadi negara Dunia Ketiga, termasuk meningkatnya pengangguran dan kemiskinan.

Menurut Spiegel Online, Amerika Serikat baru-baru ini dihadapkan dengan sebuah fenomena baru yang disebut "negara yang baru miskin."

Di Ventura California—sebuah kota resor yang mewah—sekitar 20 persen dari penduduknya berisiko menjadi tunawisma alias tidak lagi punya rumah.

Menurut Kapten William Finley, kepala cabang lokal dari Salvation Army, orang-orang yang dulunya kaya, yang telah kehilangan rumah mereka, kini terpaksa tidur di mobil mahal mereka yang diparkir di sudut-sudut kota.

Lebih jauh lagi dia menambahkan bahwa dalam bulan-bulan terakhir ini, jumlah orang yang mengambil program makanan bebas, meningkat menjadi dua kali lipat. Banyak dari mereka yang mengendarai BMW ternyata terpaksa menerima makanan gratis, tambahnya.

Sinyal lain yang menandai runtuhnya kebesaran Amerika adalah hilangnya rakyat kelas menengah.

Selama beberapa tahun terakhir ini, kesenjangan antara orang kaya dan miskin meningkat dengan kecepatan yang sangat mengejutkan, dan secara sistematis telah menghapus keberadaan kelas menengah dari Amerika.

Ketidaksetaraan pendapatan di negara Paman Sam juga telah mencapai tahap di mana hanya satu persen saja dari rakyat Amerika sendiri yang menikmati total kekayaan negara.

Itu berarti bahwa jika sebuah CEO (Chief Executive Officer) rata-rata menerima 30 kali lebih banyak sebagai pekerja biasa di tahun 1950, hari ini ia menerima bayaran sebanyak 300 kali lipat.

Sementara itu, dalam laporan tahunannya saat ini, Departemen Pertanian AS menekankan bahwa sekitar 50 juta orang Amerika tidak mampu membayar makanan yang cukup di tahun 2009. Tidak cukup makanan berarti berpengaruh untuk tetap sehat.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa satu dari delapan orang Amerika dewasa dan satu dari empat anak-anak sekarang hidup bergantung pada kupon makanan dari pemerintah. Ini adalah angka yang luar biasa bagi sebuah negara terkaya di dunia, demikian Spiegel.

Sejauh ini, politisi Amerika sendiri dinilai telah gagal untuk mengentaskan krisis yang semakin hari semakin berkembang.

Penerima Nobel bidang Ekonomi, Paul Krugman menulis pada bulan lalu bahwa "Cahaya akan menjauh dari seluruh Amerika." Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa banyak warga Amerika tidak bisa lagi menghabiskan uang karena mereka tidak memiliki tabungan.

Rumah mereka telah kehilangan separuh dari nilainya; mereka menghasilkan uang kurang dari sebelumnya atau mereka sedang menganggur. Hal ini pada gilirannya mengurangi atau menghilangkan kemampuan mereka untuk membayar pajak.

Akibatnya, banyak negara bagian dan pemerintah daerah menghadapi defisit anggaran yang sangat besar. Di Hawaii, beberapa sekolah ditutup di hari Jumat untuk menghemat uang negara. Sebuah desa di Georgia telah menghilangkan semua layanan bis umum dan di Colorado Springs, sebuah kota yang berpenduduk 380.000 orang, sepertiga dari lampu jalannya telah dimatikan untuk menghemat listrik.

Bahkan, Amerika Serikat, yang saat ini tenggelam dalam krisis utang besar di atas 90% dari PDB (Produk Domestik Bruto), terancam oleh Zaman Es sosial yang lebih parah daripada apa pun yang negara itu pernah alami sejak era The Great Depression.

Inilah sebabnya mengapa bulan lalu, seorang kolumnis online terkemuka, Arianna Huffington, mengeluarkan peringatan hampir apokaliptik bahwa "Amerika sedang berada dalam bahaya besar; menjadi sebuah negara Dunia Ketiga." (sa/presstv)

http://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/amerika-segera-menjadi-negara-dunia-ketiga.htm

No comments: