www.gata.com

Grafik Pergerakan Harga Dinar dalam Rupiah & Dollar AS


 

Friday, November 2, 2012

The Day When Dollar's Dying : an American Story

Hari ini saya terhenyak membaca berita bahwa Dollar tidak lagi dapat diterima dalam transaksi pembelian barang dari luar negeri. Berita ini benar-benar menggelisahkan, karena saya mempunyai tabungan senilai ratusan ribu dollar yang saya kumpulkan lebih dari 30 tahun, dan kini saya berniat  pensiun segera. 

Tampak wajah Presiden di saluran TV yang mencoba meyakinkan kita bahwa ini bukanlah masalah yang besar, dan tentu saja tidak berarti apa-apa kecuali kita berencana membeli mobil produksi asing atau pergi ke luar negeri. Dollar kita, katanya tetap akan "bernilai sebaik emas" di Amerika Serikat ini. Amerika, lanjutnya, adalah negara yang memiliki kekuatan ekonomi terpenting di dunia, dan Dollar adalah mata uangnya. Pemerintah, katanya lagi, tidak akan tinggal diam. Pemerintah tidak akan kehabisan uang, ucapnya. Dollar kita aman. 

Presiden berkata bahwa berita hari ini, karena ulah spekulan uang internasional yang mendorong krisis dan terus mengembangkannya. Dia berkata" bahwa para spekulan ini telah mendeklarasikan perang terhadap Dollar Amerika. Dan ini benar-benar tindakan bodoh karena ekonomi Amerika adalah ekonomi dengan pendapatan per kapita terbesar di dunia dan juga karena pemerintah Amerika tidak akan pernah kehabisan uang.  

Maka dia meminta rakyat untuk menghentikan semua transaksi internasional kecuali umtuk pembelian produk yang dianggap vital bagi Amerika. Dan untuk barang-barang yang dianggap vital ini, katanya lagi, pemerintah melalui perwakilannya memiliki wewenang untuk melakukan transaksi secara bebas seberapapun besarnya untuk menjaga agar barang-barang vital ini dapat masuk ke AS.  Amerika tidak akan terkungkung oleh anggaran internal dalam negeri atau gejolak nilai tukar mata uang asing, katanya lagi.

Saya bukanlah tipe orang yang mudah panik dalam kondisi apapun, tapi walau Presiden sudah menjamin sedemikian rupa, saya mulai panik. Jadi setelah meregangkan badan sedikit, saya memutuskan untuk menelepon kantor bahwa saya sakit hari ini dan pergi ke toko untuk menambah stok kebutuhan sehari-sehari. Sekedar jaga-jaga saja. Namun apa yang saya temukan benar-benar mengagetkan.

Sejumlah toko tutup pada hari itu, dan satu-satunya toko yang buka diserbu oleh orang-orang yang tampaknya punya ide yang sama denganku. Sebagian besar barang dalam daftar belanjaku sudah kosong dari rak. Jadi saya pun pulang untuk menghubungi pialangku.

Saya bicara padanya tentang jatuhnya Dollar dan rencanaku membeli emas pekan ini. Uhhh. Saya sudah sering membaca tentang emas ini sebulan terakhir, tetapi selama itu saya selalu berfikir membeli emas hanya satu dari sekian banyak alternatif investasi lainnya.Dan bila pun saya jadi membelinya, seluruh sinyal menganjurkan agar mengambil keputusan tersebut di tahun 2014, jadi saya fikir saya memiliki waktu yang cukup untuk beralih ke emas. Karena keyakinan itu saya telah meminta pialang saya untuk menjual seluruh obligasi dan menyimpannya dalam bentuk cash atau mata uang asing, sehingga saya bisa menukarnya dengan emas ketika waktunya tiba. 

Saya kontak pialang saya untuk sekadar meyakinkan dana tersebut masih likuid dalam situasi seperti ini. Dia berkata, dananya masih likuid sepanjang dia tidak melakukan transfer internasional. Kemudian saya menghubungi pedagang emas terbesar di daerahku, salah satu yang direkomendasikan kepadaku. Tetapi dia mengatakan bahwa dia hanya membeli saja hari ini, tidak menjual. Dia berkata bahwa dia tidak melakukan penjualan karena suppliernya tidak mencatumkan harga jual atas stok emasnya. Dia menganjurkan untuk mencoba kembali esok hari. Saya coba menghubungi pedagang emas lainnya dan mendapat hasil yang sama.

Jadi disinilah saya duduk, sembari menulis diary yang menyedihkan. Saya tidak tahu apa yang terjadi besok, dan saya benar-benar bingung. Saya punya firasat tidak enak. Saya pikir yang bisa saya lakukan adalah menunggu dan melihat apa yang terjadi besok.

No comments: